Langsung ke konten utama

Menuju Ketawai Island

Potret Pulau Ketawai
Pulau Ketawai, sebuah pulau kecil yang berada di daerah Kabupaten Bangka Tengah menyimpan pesona keindahan yang mampu menarik banyak wisatawan untuk mendatanginya, termasuk saya yang tertarik untuk berkunjung ke pulau tersebut.
Tanggal 16 Desember 2012, saya bersama rekan-rekan kuliah lainnya berkumpul untuk berangkat menuju Pulau tersebut. Kami berangkat dari Pangkalpinang menggunakan sepeda motor beramai-ramai menuju ke Desa Kurau Kab. Bangka Tengah.
Ditengah Perjalanan kami ditemani hujan gerimis yang cukup untuk membuat basah baju dalam perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 45 menit. Sesampainya dikurau, cuaca berubah menjadi cerah, dan kami segera menuju perahu yang akan digunakan untuk menyebrang ke pulau tersebut.
Menuju Pulau Ketawai
Biaya sewa perahu cukup mahal, berkisar mulai dari 700 ribu hingga satu jutaan, dengan muatan penumpang bisa mencapai 30 orang untuk satu perahu.

Untuk menyebrang ke Pulau Ketawai memakan waktu kurang lebih 20 menit. Saran saya jika anda ingin ke pulau tersebut, berangkat lah pagi hari, agar ketika menyebrang ke pulau tersebut cuaca tidak terlalu panas, karena jika anda berangkat pukul 11.00 WIB matahari akan membakar kulit anda. hihihi

Bangkai Kapal Karam di depan Pulau Ketawai
Dalam perjalanan menyebrang ke Pulau Ketawai ditemukan beberapa bangkai kapal yang karam sebelum Pulau Ketawai. (Mungkin sekarang bangkai kapal tersebut sudah diangkat). Air yang biru menemani perjalanan menuju Pulau nan Indah tersebut. Ditemani gelombang yang cukup untuk membuat saya sedikit pusing.

Sesampainya di Pulau, kami disambut oleh jernihnya air, Hijaunya rerumputan dan teduhnya pohon kelapa. Dan ternyata Pulau tersebut sudah ramai didatangi orang sejak pagi, kami pun mencari lokasi yang strategis untuk menggelar karpet dan membuka menu makan siang. Setelah ditemukan tempat yang pas, karpet pun digelar dan langsung membuka menu yang sudah disediakan rekan-rekan kuliah lainnya. Tapi sayang saat itu tidak ada kegiatan bakar-bakar ikan :( . Tapi nggak apa-apalah, kalo pertama kali memang kayak gini biasanya, kurang persiapan.

Selesai makan, saya dan beberapa rekan kuliah laki-laki mencoba untuk mengelilingi pulau ini dan menemukan tempat bagus untuk mandi di pulau ini, jauh dari keramaian, teduh karena terdapat pohon yang rimbun. tanpa berlama-lama, kami pun langsung turun mandi. 

Setelah mandi, perjalanan mengelilingi pulau dilanjutkan kembali. Sambil-sambil berburu foto dan ini hasilnya.
Pohon Kelapa yang bikin penasaran :D
Under Coconut Tree



Foto dari Dermaga Ketawai
@arieokta17

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…