Langsung ke konten utama

3D2N in Palembang

Ampera Malam hari @arieokta17
"Apa bai yang ade di Palembang?" sebuah pertanyaan dengan logat bahasa bangka keluar dari mulutku ketika teman-teman  kuliah mengajak untuk mengisi liburan 3 hari 2 malam di Palembang.
Saya pun browsing di internet mengenai Kota Palembang yang terkenal dengan empek-empeknya, dan saya menemukan sebuah blog yang menceritakan pengalaman penulis dikota Palembang dan membuat saya tertarik untuk ikut teman-teman berlibur ke kota Palembang. Teman saya bilang, "udah ikut aja, sekali-sekali, aku belum pernah ke palembang", saya pun berpikir, mungkin ada benar kata teman saya, "sekali-sekali", "belum pernah" kata tersebut menjadi kesamaan kondisi dengan yang saya alami, dimana sangat sulit mencari waktu kosong agar bisa pergi berlibur sehingga memunculkan konteks kata "sekali-sekali" , dan kata "belum pernah" membangkitkan semangat karena memang saya belum pernah berkunjung ke kota Palembang, meskipun masih tetangga dengan Pulau Bangka.
Akhirnya saya setuju untuk ikut bersama mereka menuju kota Palembang yang saat itu katanya sedang dipenuhi kabut asap, dan saya tidak menghiraukan hal itu.

H1
Dan hari yang ditunggu pun tiba, tanggal 24 Oktober 2014, setelah selesai Shalat jum'at saya berangkat ke bandara Depati Amir Pangkalpinang menuju bandara Sultan Mahmud Badarudin Palembang. Perjalanan ke dari Pangkalpinang menuju Palembang memakan waktu lebih kurang 25 menit, begitu kata sang Pramugari. #cihuy... Nggak kerasa terbangnya kalo cuma 25 menit.hahaha

Ketika sampai di Palembang, saya dan teman-teman kuliah dijemput salah seorang teman yang sudah lebih dulu sampai di Palembang. Kemudian menuju ke Hotel yang berada di sekitar Palembang Indah Mall. Lebih tepatnya Emilia Hotel by Amazing

Sempat beristirahat dan menunaikan Ibadah Shalat maghrib, saya beserta teman keluar untuk makan malam, dan menu malam pertama di Palembang adalah makanan khas Palembang "empek-empek" dan tempat yang jadi tujuannya empek-empek "VICO" terkenal dengan es kacangnya. Setelah selesai makan, kemudian dilanjutkan dengan nonton Bioskop, maklum di Bangka belum ada bioskop :(

H2
Bangun pagi-pagi, mandi, sarapan, balik lagi, nonton TV sampe jam 10, terus Checkout. Cukuplah mengistirahatkan tubuh untuk seharian keliling kota Palembang. Setelah Checkout tujuan selanjutnya ke Palembang Icon, terus ke PTC, terus lagi makan. Setelah itu pulang. Janjian sama temen yang kuliah di PGRI Palembang ngajakin keliling Palembang, karena kurang tau wilayah Palembang, akhirnya janjian ketemu di Palembang Icon, dan saya pun jalan kaki dari Kosan menuju Palembang Icon, deket kok. :D . Untung-untung mata ini masih sehat jadi bisa keliatan sama temen yang dari kejauhan.hehe
Dan start keliling Palembang jam 16.30 WIB pake sepeda motor biar bisa leluasa nerobos kemacetan di Palembang.hehe, tujuannya kawasan Jakabaring tempat diadakannya SEA Games 2011

Gelora Sriwijaya
Stadion Gelora Sriwijaya (juga disebut Stadion Jakabaring) adalah stadion multifungsi terbesar ketiga di Indonesia setelah Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Utama Palaran. Berlokasi di Palembang, Indonesia, stadion ini juga diakui sebagai salah satu stadion terbaik yang bertaraf internasional.[butuh rujukan] Kebanyakan, stadion ini difungsikan untuk tempat penyelenggaraan pertandingan-pertandingan sepak bola. Stadion dengan luas lahan sekitar 40 hektar ini dapat memuat hingga 36.000 - 40.000 orang dengan 4 tribun (A, B, C dan D) bertingkat mengelilingi lapangan. Tribun utama di sisi barat dan timur (A dan B) dilindungi atap yang ditopang 2 pelengkung (arch) baja berukuran raksasa. Bentuk atap stadion merupakan simbol kejayaan kemaharajaan Sriwijaya di bidang maritim yang dilambangkan oleh bentuk perahu dengan layar terkembang. Stadion ini beralamat di Jalan Gubernur H. A. Bastari, Jakabaring, Palembang. (Wikipedia)

Setelah beberapa lama di Jakabaring, dilanjutkan kembali ke icon Kota Palembang yaitu Jembatan Ampera.

Sejarah Ampera

Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.
Untuk lebih lengkapnya silahkan kunjungi di (wikipedia)

Cukup lama di Ampera, saya bertemu kembali dengan teman-teman kuliah. dan kembali mengambil moment-moment bersama mereka sebelum kembali ke Bangka esok harinya, karena malam itu malam terakhir kami di Kota Palembang.



H3
Masih sempat juga jalan-jalan, cari oleh-oleh untuk pulang, jam 14.30 WIB udah di bandara. setelah menunggu selama beberapa jam, pesawat tujuan Pangkalpinang akhirnya tiba juga. Kami segera naik pesawat. Dan bersiap-siap kembali ke kehidupan sebenarnya. :D

Komentar

  1. jogja menunggu kita setelah sidang. mari tinggalkan jejak teman hahaha

    BalasHapus
  2. Wah, kaya apa tuh terbang cuma 25 menit?
    Oh ya, ga sempat mampir Pulau Kemaro kah? Waktu saya ke Palembang juga ga sempat mampir sih, tapi liat foto-fotonya (dan baca legendanya) di internet, kayanya seru jg berkunjung kesana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayak nungguin pesen makan di cafe kalo lagi ramai mbak.hehe
      rencananya sih kemarin mau gitu mbak, tapi karena ini kali pertama, ga semuanya berjalan sesuai rencana -_-

      Hapus
  3. Aku orang sana, tapi gak pernah nulis tentang Palembang, Hahahhaha...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

Hoovgebouw van Het Ziekenhui, Sisa dan Sejarah Banka Tin Winning

Jika dimulai dari sejarah, Kota Pangkalpinang mempunyai alur cerita sejarah yang menarik untuk diceritakan. Awalnya bermula ketika Kesultanan Palembang dipimpin oleh Sultan Mahmud Badarudin I Jayawikromo, namun ketika pada tanggal 17 September 1757 Sultan Mahmud Badarudin I Jayawikromo wafat dan diangkatlah Susuhunan Ahmad Najamuddin Adikusumo sebagai Sultan Palembang yang sebelumnya sudah mendapatkan perintah dan kuasa untuk memimpin pemerintahan dan memperluas daerah Kesultanan Palembang dari Sultan Mahmud Badarudin I Jayawikromo sebelum wafat.
Kota Pangkalpinang dibentuk setelah Kesultanan Palembang dipimpin oleh Susuhunan Ahmad Najamuddin Adikusumo. Beliau memberikan perintah kepada Abang Pahang yang bergelar Tumenggung Dita Menggala dan Depati serta Batin - batin dan Para Krio yang ada di Pulau Bangka untuk mencari pengkal yang akan dijadikan tempat kedudukan Demang dan Jenang untuk mengawasi parit - parit penambangan timah, para pekerja timah, dan mengawasi distribusi timah dari …