Langsung ke konten utama

Belinyu dari sisi Utara


Potret Penyusuk Foto @Arie
Pada saat itu, kami berencana berangkat pada tanggal 8 Desember 2013, akan tetapi saya pergi lebih dulu dari teman-teman, karena sekalian mengunjungi nenek disana. Saya berangkat hari sabtu, dan teman-teman saya menyusul pada hri minggu nya. Tapi sayang sekali, cuacanya kurang mendukung, karena dari sabtu sore saya berangkat sampe minggu siang, belinyu terus diguyur hujan. tetapi tidak mengurangi keseruan kami.
Setelah bertemu teman perjalanan langsung dilanjutkan menuju sisi utara belinyu, yaitu Pantai Penyusuk. Pantai ini cukup terkenal bagi masyarakat Bangka Belitung dan wisatawan dari luar daerah. Dengan ditemani hujan gerimis kami berangkat menuju penyusuk. sambil mencari-cari keperluan disepanjanh perjalanan untuk keperluan bakar-bakar disana.


Sesampainya di penyusuk, kami segera membangun tenda untuk melindungi dari hujan. setelah itu barang-barang dikeluarkan. Dan mulai dengan kesibukan, para ibu-ibu membersihkan ikan yang akan dibakar, dan bapak-bapak berusaha untuk menghidupkan api ditengah hujan lebat :D . Ikan sudah selesai dicuci dan api pun tak kunjung hidup, butuh perjuangan keras untuk menghidupkan api ditengah hujan. #hahaha
Ulang Tahun sesepuh, Foto @wahid
Dan akhirnya api pun hidup juga dengan asap yang membuat mata berbinar-binar. Tiba-tiba ada yang bernyanyi "Selamat ulang tahun, kami ucapkan....." ternyata itu kejutan untuk sesepuh yang ulang tahunnya udah lewat beberapa hari :D. "Happy Birthday, semoga dan semoga....". Gak jadi tu bakar ikannya, makan kue aja yg udah ada, tapi kue udah abis, kenyang pun belum sampai, dan dilanjutkan kembali dengan bakar-bakar yang tertunda tadi. Kami bergiliran mengipas api agar apo terus hidup, maklum api ditengah hujan :D. satu persatu ikan dan ayam mulai matang, dan siap untuk disantap. Yo, mari makan. Enak gak enak kalo lapar pun pasti enak, dan yang penting itu kebersamaan kita.


Makan udah selesai, ngapain ya.... ? Dan mereka pun memutuskan untuk mandi pantai, yahh, seru banget yak, sayang sekali ane nggak punya pakaian lagi, cuma tersisa pakaian yang nempel dibadan, kalo saya mandi, saya pulang dengan basah, jadi saya nggak ikutan mandi. Mandi selesai, dan bersiap untuk putar arah, kami pun kembali, dan menyempatkan datang ke pantai romodong untuk mengambil beberapa foto bersama.


Potret Batu Dinding @arieokta17
Setelah berfoto perjalanan dilanjutkan kembali menuju ke arah Pelabuhan belinyu, tepatnya Daerah Batu Dinding, Tempat yang hijau, dan terdapat batu-batuan besar tersebar hingga bibir pantai. Ketika sampai di pantai ini, kita akan bertemu penjaga pantai yang mungkin usianya sudah cukup tua, akan tetapi beliau senang bercanda, mungkin candaannya agak kurang mengenakkan, jangan pernah diambil hati, karena seperti itulah karakter beliau yang menjaga dan merawat kawasan Batu Dinding hingga terlihat indah seperti gambar berikut ini :)

Untuk mengunjungi pantai-pantai diatas, mulai dari Pantai Penyusuk, Pantai Romodong, Batu Dinding dan banyak lagi pantai lainnya, teman-teman bisa menyewa mobil, agar lebih leluasa mengunjungi pantai-pantai yang berada di daerah Belinyu. Karena jika menggunakan motor, jaraknya lumayan jauh dan melelahkan. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…