Langsung ke konten utama

Mercusuar Tanjung Kelian Muntok

Mercusuar Tanjung Kelian
Masih di tanggal 17 Agustus 2014  lanjutan dari Trip to Muntok 17 Agustus 2014 dengan tujuan yang berbeda, kali ini ceritanya tentang wisata alam sekaligus wisata sejarah.

Yap, Mercusuar Tanjung Kelian Muntok, Mercusuar yang berdiri tegar dan kokoh di Tanjung Kalian ini di bangun oleh Belanda pada tahun 1862 dengan arsitektur bergaya inggris dan masuk sebagai cagar budaya Kabupaten Bangka Barat. Mercusuar ini memiliki tinggi 65 meter dan terdiri dari 16 lantai. Sehingga cukup membuat anda berkeringat untuk mencapai lantai tertingginya.


Bangkai Kapal Van der Parra
Mercusuar ini terletak di Pantai Tanjung Kelian Muntok. untuk mencapai lokasi ini, anda bisa menggunakan mobil atau motor, dan bisa dipandu menggunakan GPS Google Maps yang tersedia pada smartphone anda.

Ditepi Pantai Tanjung Kelian terdapat bangkai kapal tua Van der Parra yang katanya (berdasarkan informasi yang digali) tenggelam karena dihujani bom oleh Jepang.

Dari atas Mercusuar ini kita bisa melihat pemandangan sekeliling Pantai Tanjung Kelian yang indah. Untuk masuk dan menaiki mercusuar ini setiap pengunjung dikenakan biaya 5ribu per orang #harga #edisi 17 Agustus 2014 (harga bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu). Jadi siapkan uang lebih :)
View dari atas Mercusuar
View dari atas Mercusuar
Sekian dulu artikel singkat ini, mudah-mudahan bisa memberikan manfaat kepada pembaca. Terimakasih :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…