Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

Sampah, Catatan Hitam di Akhir Tahun

Malam itu udara terasa dingin menembus kulit. Malam itu tak seperti biasanya. Hilir mudik kendaraan terasa begitu menyesakkan, muda-mudi berpasang-pasangan melewati sepertiga malam. Sebuah potret cerita setiap akhir tahun.

Di malam itu tidak ada yang istimewa. Malam yang dimulai dengan hujan aku lewati bersama rekan-rekan kuliah dengan kebersamaan yang diisi kegiatan-kegiatan kecil semacam bakar jagung, makan bersama dan bercanda.

Ketika malam berlalu, terang muncul perlahan bersama matahari yang bersinar malu-malu di awal tahun. Aku memberanikan diri keluar menembus dinginnya embun pagi itu hanya sekedar untuk melihat apa yang terjadi setelah malam berlalu. Tujuannya adalah sebuah pantai di Kabupaten Bangka yang biasa menjadi tempat favoritku untuk bersantai.

Sesampainya di tempat tersebut, saya kagum melihat pantai yang biasanya sepi berubah layaknya sebuah pasar malam, tenda-tenda dibangun disana sini, tetapi menyedihkan ketika melihat deretan sampah tersusun tidak rapi tak berjar…

Djogja itu Bikin Kangen...

Banyak yang bilang, Djogja kota yang bisa buat kamu rindu. Saya berkesempatan mengunjungi kota kenangan ini di akhir-akhir tahun 2014, tepatnya liburan sekolah bagi yang masih sekolah. Di Djogja, banyak tempat yang bisa dijadikan pilihan untuk mengistirahatkan tubuh setelah lelah mengunjungi wisata yang ada di kota gudeg ini.

Hotel Inna Garuda bisa menjadi pilihan karena lokasinya yang strategis dekat dengan Tugu Djogja di sekitaran Malioboro. Pelayanan yang ramah diberikan kepada setiap tamu yang datang. Hotel yang memiliki 222 kamar mewah ini juga dilengkapi fasilitas internet yang tidak diragukan kecepatannya.

Sayang saat itu hujan terus mengguyur Djogjakarta ketika saya tiba pada tanggal 21 Desember 2014. Tapi kota yang memiliki banyak destinasi wisata ini tak pernah sepi dari wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Ketika akhir pekan, atau liburan sekolah seperti ini puluhan bus datang silih berganti mengantarkan wisatawan ke tempat-tempat wisata. Mereka datang bergerombolan da…

Sosok Emak di Hari Ibu

Emak adalah perempuan yang tegar, dan kuat, tak pernah bosan melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang tanpa mengharapkan bayaran walaupun selembar baju untuknya sendiri. Emak hanyalah emak yang kasih sayangnya tak terhingga sepanjang masa.
Pernah suatu hari saat usia ku 10 tahun, siang hari panas itu aku dan emak pergi untuk membantu apa yang perlu dibantu ketika kami akan membangun sebuah rumah kecil yang menjadi tempat tinggal ku saat ini. Aku berboncengan dengan emak dengan sepeda mini yang dia beli bekas (read:seken) dengan mengumpulkan uang hasil berjualan kue. Ketika aku duduk dibelakang berboncengan dengannya, tiba-tiba kakiku terjepit di jari-jari sepeda. Demi melepaskan kakiku dari jari-jari sepeda, emak rela sepeda yang baru ia beli rusak dan tak bisa dipakai. Dan ketika beranjak dewasa, aku mengerti emak begitu menyayangi kami.
Emak, Ada bangga di hatiku mempunyai seorang ibu seperti emak, ada kagum dihatiku akan semangat seorang emak, dan, ada sayang yang tak habis terc…

Maras, Melihat Bangka Utara dari Ketinggian

Mungkin banyak wisatawan berpikir, Bangka hanyalah sebuah cerita tentang pantai. Namun sedikit yang tahu disisi lain bangka berdiri tegak dan kokoh sebuah arsitektur alam, yang mereka mengenalnya dengan sebutan Maras.

Maras adalah sebuah Gunung yang terletak di Desa Rambang, Kecamatan Riau silip, Kabupaten Bangka. Dari kejauhan tampak maras yang gagah berdiri, dihadapannya terbentang Jembatan sepanjang 204 meter yang dibangun pada tahun 1929 dikenal dengan Jembatan Perimping. Tapi ini tidak membahas mengenai Jembatan yang dibangun pada jaman belanda, ataupun ramahnya warga Desa Rambang yang menyapa beberapa pendaki.

Punggur, Tentang sebuah Rindu

Kasih kau pernah menanyakan tentang rindu padaku, aku ingin duduk manis dan menceritakan perjalananku hari ini.

Perjalanan ini begitu melelahkan, tapi belum seberapa jika dibandingkan warga dusun tuing yang harus berjalan berkilo kilo meter keluar dusun utk memenuhi kebutuhan hidup.
Di beberapa sisi, terlihat beberapa bangunan beratapkan daun rumbia yang didalamnya tinggal keluarga sederhana, sesederhana malam hari yang hanya diterangi cahaya dari sebuah lampu minyak.
Terlintas dipikiranku, masih pantaskah diri ini mengeluh, diciptakan dengan fisik sempurna dan kehidupan yg berkecukupan, bagaimana mereka?

Diujung jalan kutemukan sebuah tempat yang logika ku mengatakan mirip seperti pantai diluar bangka *tak tahu itu dimana*. Batu-batu coral berserakan di tempat ini, punggur namanya terletak di Dusun Tuing Kabupaten Bangka.
Pesisir pantai beralaskan batu lembut berwarna warni, belum banyak yang datang kesini. Menurutku tempat ini menyenangkan dan menenangkan meskipun tak seramai Pasir …