Langsung ke konten utama

Punggur, Tentang sebuah Rindu


Kasih kau pernah menanyakan tentang rindu padaku, aku ingin duduk manis dan menceritakan perjalananku hari ini.

Perjalanan ini begitu melelahkan, tapi belum seberapa jika dibandingkan warga dusun tuing yang harus berjalan berkilo kilo meter keluar dusun utk memenuhi kebutuhan hidup.

Di beberapa sisi, terlihat beberapa bangunan beratapkan daun rumbia yang didalamnya tinggal keluarga sederhana, sesederhana malam hari yang hanya diterangi cahaya dari sebuah lampu minyak.

Terlintas dipikiranku, masih pantaskah diri ini mengeluh, diciptakan dengan fisik sempurna dan kehidupan yg berkecukupan, bagaimana mereka?


Diujung jalan kutemukan sebuah tempat yang logika ku mengatakan mirip seperti pantai diluar bangka *tak tahu itu dimana*. Batu-batu coral berserakan di tempat ini, punggur namanya terletak di Dusun Tuing Kabupaten Bangka.

Pesisir pantai beralaskan batu lembut berwarna warni, belum banyak yang datang kesini. Menurutku tempat ini menyenangkan dan menenangkan meskipun tak seramai Pasir Padi di akhir pekan, dan tak setenar Parai Tenggiri di kancah nasional.

Aku ingin mengajakmu berkunjung, tapi aku ragu akan perbedaan. Kau yang lebih memilih shoping dibandingkan memancing, travelling dari pada adventuring. Tapi hati kecilku mengingatkan, perbedaan itu dipertemukan untuk disatukan, sampai akhirnya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi.

Untuk sampai kesini cukup melelahkan, jalur hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor, keluar masuk hutan, melewati beberapa perkebunan sawit, panas dan debu menjadi teman setia jikala musim kemarau.  Pantas saja tak banyak yang datang kesini.

Kau tahu, dibalik durian yang berduri tajam, didalamnya terdapat buah yg lezat.

Dan ketika sore menjelang, aku kembali pulang, sembari berdoa agar selamat sampai tujuan, dan berbagi cerita sedikit padamu.





Komentar

  1. Foto-fotonya bagus. Lokasi pantainya memang sengaja disembunyikan ya?
    Coba diexplore solo travelingnyaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mbak Indri, emang lokasinya susah dijelasin mbak.hehe, terimakasih sudah mampir

      Hapus
  2. Kalo lg silaturahmi ke Bangka pantai in bisa jadi alternatif nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh, tapi cukup jauh dari pemukiman lo.hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…