Langsung ke konten utama

Sampah, Catatan Hitam di Akhir Tahun



Malam itu udara terasa dingin menembus kulit. Malam itu tak seperti biasanya. Hilir mudik kendaraan terasa begitu menyesakkan, muda-mudi berpasang-pasangan melewati sepertiga malam. Sebuah potret cerita setiap akhir tahun.

Di malam itu tidak ada yang istimewa. Malam yang dimulai dengan hujan aku lewati bersama rekan-rekan kuliah dengan kebersamaan yang diisi kegiatan-kegiatan kecil semacam bakar jagung, makan bersama dan bercanda.

Ketika malam berlalu, terang muncul perlahan bersama matahari yang bersinar malu-malu di awal tahun. Aku memberanikan diri keluar menembus dinginnya embun pagi itu hanya sekedar untuk melihat apa yang terjadi setelah malam berlalu. Tujuannya adalah sebuah pantai di Kabupaten Bangka yang biasa menjadi tempat favoritku untuk bersantai.

Sesampainya di tempat tersebut, saya kagum melihat pantai yang biasanya sepi berubah layaknya sebuah pasar malam, tenda-tenda dibangun disana sini, tetapi menyedihkan ketika melihat deretan sampah tersusun tidak rapi tak berjarak.

Berikut adalah dampak sampah plastik terhadap lingkungan
  1. Racun dari partikel plastik ketika masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai seperti cacing.
  2. PCB (Polychlorinated Biphenyl) tidak dapat terurai meskipun termakan oleh binatang dan akan menjadi pembunuh berantai sesuai urutan rantai makanan.
  3. Kantong plastik dapat menganggu jalur air yang teresap ke dalam tanah.
  4. Kantong plastik dapat menganggu kesuburan tanah karena dapat menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah.
  5. Hewan-hewan laut seperti lumba-lumba, penyu laut & anjing laut menganggap plastik tersebut makanan dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya.
  6. Ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tidak dapat hancur dan akan meracuni hewan lain.
  7. Pembuangan sampah plastik sembarangan di sungai akan mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yg menyebabkan banjir! (Tridinews)



Sesekali, kubuka Facebook untuk menghilangkan jenuh yang ada, banyak yang berkata "semoga tahun ini lebih baik dari sebelumnya". Kembali aku berpikir dan mengaitkan status facebook tadi dengan sampah yang ada disekitar, tak ada yang lebih baik pada malam pergantian tahun. Selalu sama dengan tahun-tahun sebelumnya atau bahkan lebih buruk. Sampah selalu menjadi catatan hitam di akhir tahun, kemudian dimana mereka yang berkata "semoga tahun ini lebih baik dari sebelumnya" sudahkah berbuat baik untuk mengawali tahun terbaru mereka? Mulailah berbuat kebaikan, minimal dari hal kecil, buanglah sampah ditempatnya, setidaknya itu memberikan sedikit perubahan untuk mengawali tahunmu yang baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…