Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2015

Pengennya Selfie Bareng Plang Mahameru

Hello Brother, Bicara masalah rencanan perjalanan di tahun 2015 ini emang sedikit rumit bagi sebagian orang termasuk gue. Masalah ekonomi yang terus berkemelut dalam kantong gue membuat sedikit bingung mengatur pengeluarannya. *Ehh malah curhat*

Apalagi di tambah gue sebagai mahasiswa semester akhir yang bakalan banyak ngeluarin biaya di tahun ini buat kepentingan - kepentingan kuliah. *Tuh kan keterusan curhatnya*

Ngomong masalah perjalanan. Ada beberapa tempat yang menjadi rencana tujuan gue di tahun ini, satu diantaranya Gunung Semeru dengan Puncaknya Mahameru. Gue punya impian pengen foto selfie bareng papan nama yang ada di Puncak Mahameru, yang ada tulisan 3676 mdpl itu lo. (Gila kali ya, selfie bareng benda mati)
ya suka-suka gue, impian, impian gue..
Gue pengen ngerasain pengalaman menjelajahi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, menikmati malam syahdu di Ranukumbolo, nyariin jodoh lewat tanjakan cinta, dan motret sedikit Bunga Edelweis untuk sang kekasih. *Ehm*
Nah, masalah f…

Puri Tri Agung, Wajah Baru Destinasi Wisata Religi dari Pulau Bangka

Bangka, yang selama ini dikenal dengan wisata pantainya seakan kian menunjukkan eksistensinya setelah diresmikannya sebuah tempat wisata religi oleh Menteri Agama RI, Bapak Lukman Hakim Saifudin pada hari minggu 18 Januari 2015 lalu.
Tempat wisata religi ini terletak di kawasan Pantai Tikus Sungailiat, Kabupaten Bangka. Sosok tiga dewa yang ada dalam kuil tersebut menjadikan alasan pengelola memberikan nama tempat ini sebagai Padepokan Puri Tri Agung. Bangunan yang berdiri megah di ketinggian ini memiliki landscape yang menarik, karena berhadapan langsung dengan Pantai Tikus. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang berselfie ria dari kawasan Puri ini.
Bangunan yang menjadi tempat ibadah umat Buddha ini katanya di arsiteki Putra Bangka, dibangun bertahap selama 12 tahun dan menghabiskan biaya sekitar Rp. 12 milyar. Saya sengaja berkunjung menikmati sore dihari Jum'at sembari mengambil beberapa foto. Sesekali masuk kedalam dan tercium pekat aroma garu yang menusuk hingga …

Camping dong, Biar kayak orang-orang

Siang itu Sabtu tanggal 17 Januari 2015, angin pantai tak berhenti bertiup menghilangkan penat dan lelah ketika tiga orang laki-laki berusaha mendirikan dua buah bangunan sederhana yang mereka sebut itu tenda. Dengan peralatan seadanya mereka cekatan membangun tempat untuk berlindung dari dinginnya angin malam kelak. Kencangnya tiupan angin menjadi tantangan sekaligus ujicoba agar bangunan tetap berdiri tegak hingga waktunya kami pulang. Kenapa? karena kami datang di pertengahan Januari, cuaca seperti yang diberitakan di tivi-tivi dengan Headlinenya "Cuaca Ekstreme". Aku dan sebelas teman kuliah lainnya akan mengadakan camping untuk sejenak melepas lelah setelah aktivitas semester tujuh yang bisa dibilang sangat padat.

Jam tiga sore, tenda sudah berdiri. Ada senyum keluar diantara peluh keringat yang keluar mengalir deras hingga jatuh ke tanah. "Ini salah satu mahakarya anak komputer yang kesehariannya bergelut dengan software", candaku ringan. Sekian lama beristi…

Yogyakarta dalam lensa

Akhir tahun 2014 lalu saya berkesempatan mengunjungi Jogjakarta, walaupun bukan dalam rangka jalan-jalan mengexplore Jogja tapi lumayan lah, ada sedikit dari sekian banyak objek wisata di Jogjakarta yang bisa diambil. Karena terbatasnya waktu membuat saya terpaku didalam meeting room sebuah hotel, dan baru bisa keluar jalan-jalan di malam terkahir sebelum pulang kembali ke kampung halaman.


Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…

Ayook, Hari Raya di Bangka

Cerita ini bermula ketika pagi tanggal merah pada kalender tepatnya libur Maulid Nabi Muhammad SAW. Adat yang ada di Negeri Serumpun Sebalai, dari beberapa hari-hari besar umat muslim diantaranya dirayakan dengan meriah. Seperti Maulid Nabi Muhammad SAW. ini, di beberapa daerah seperti Desa Balunijuk, Kace dan beberapa tempat lainnya merayakan hari kelahiran Rasulullah ini dengan meriah. Kebanyakan orang mengenalnya dengan "Hari Rayo" (Hari Raya/Lebaran). Nah enak kan, di Bangka hari rayanya lebih dari dua kali dalam setahun.hehehe.


Hari Raya Maulid ini seperti Hari Raya Idul Fitri pada umumnya, ada makanan ketupat, lontong beserta kawan-kawannya. Orang-orang datang bersilaturahim, cuma bedanya, Hari Raya Maulid tidak diiringi dengan gema Takbir seperti halnya Idul Fitri ataupun Idul Adha.


Oke, ketika matahari mulai meninggi, saya dan beberapa teman kuliah berkunjung kerumah salah satu teman kuliah di Desa Kace. Kami disuguhkan dengan makanan layaknya Hari Raya. Dua dulang …