Langsung ke konten utama

Camping dong, Biar kayak orang-orang

Foto By Nurwahidin
Siang itu Sabtu tanggal 17 Januari 2015, angin pantai tak berhenti bertiup menghilangkan penat dan lelah ketika tiga orang laki-laki berusaha mendirikan dua buah bangunan sederhana yang mereka sebut itu tenda. Dengan peralatan seadanya mereka cekatan membangun tempat untuk berlindung dari dinginnya angin malam kelak. Kencangnya tiupan angin menjadi tantangan sekaligus ujicoba agar bangunan tetap berdiri tegak hingga waktunya kami pulang. Kenapa? karena kami datang di pertengahan Januari, cuaca seperti yang diberitakan di tivi-tivi dengan Headlinenya "Cuaca Ekstreme". Aku dan sebelas teman kuliah lainnya akan mengadakan camping untuk sejenak melepas lelah setelah aktivitas semester tujuh yang bisa dibilang sangat padat.

Jam tiga sore, tenda sudah berdiri. Ada senyum keluar diantara peluh keringat yang keluar mengalir deras hingga jatuh ke tanah. "Ini salah satu mahakarya anak komputer yang kesehariannya bergelut dengan software", candaku ringan. Sekian lama beristirahat, mereka kembali bekerja membangun interior tenda layaknya sebuah bangunan mini, dibuatlah tempat memasak, tempat menaruh barang-barang. Ah, ini seperti sebuah kostan ku.



Hari menjelang sore, satu persatu peserta camping mulai datang, meletakkan barang-barang, berkumpul bersama. Kemudian saling bekerjasama, beberapa orang diantaranya mencuci, dan beberapa lainnya menyiapkan peralatan memasak. Aku hanya duduk diam ditemani secangkir kopi hangat dengan aromanya yang khas, sesekali berangkat mengumpulkan kayu-kayu kering yang bisa dimakan api, mungkin akan berguna untuk menghangatkan tubuh dimalam hari nanti.


Tidak memerlukan sertifikat kelas nasional bagi dua orang chef kami untuk menghasilkan makanan yang mampu menggugah selera. Cabe, kunyit, garam dan gula yang menjadi bahan dasar masakan ini diolah layaknya seorang chef professional. Namun, asam sebagai bumbu pelengkap menu ini tidak dipersiapkan dan harus diganti dengan perahan jeruk sambal sebagai penambah rasa asam pada masakan. Dengan bumbu seadanya tadi, mereka bekerjasama menghasilkan masakan khas bangka dengan citarasanya yang khas yang biasa dikenal dengan "Lempah Kuning".



Senja perlahan mulai menghilang, lelah setelah bekerja disambut dengan hidangan makanan yang sedari tadi diciptakan bersama-sama. Makan malam kali ini sedikit berbeda, dengan lauk seadanya, pohon kelapa yang tersayup-sayup ditiup sang angin dan suara batu alam yang memecah gelombang membuat moment ini begitu berkesan.


Ketika malam semakin larut, kulihat seorang perempuan menggunakan sarung tangan, dan kaus kaki, begitu dingin malam itu baginya. "Dingin? Kubawakan selimut hangat untukmu, barangkali bisa mengurangi sedikit dingin yang kamu rasakan" ujar ku melambungkan perhatian. "Tidurlah, malam semakin larut".


Langit cerah bertaburkan bintang, suasana yang pernah kunikmati tujuh tahun lalu bersama keluarga besar. Namun rasanya berbeda, ada sedikit rasa khawatir, ketika gelombang semakin pasang mendekati tenda. Sesekali ku buat bendungan sederhana dengan menggunakan pasir yang dilapisi kayu-kayu untuk memperlambat sedikit arus gelombang mencapai tenda agar mereka yang didalam tidak terbangun. Tidak berapa lama, bendungan yang ku buat tadi hancur tersapu gelombang, kembali ku bangun dan begitu seterusnya hingga jam menunjukkan pukul empat pagi.




Komentar

  1. Seru banget kemah rame-rame. :)
    Btw, siapa tuh yang secara khusus dibawain selimut hangat? Cie Arie cieeeee... :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak frista ayo camping. cie... mau tau.. :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…