Langsung ke konten utama

Puri Tri Agung, Wajah Baru Destinasi Wisata Religi dari Pulau Bangka


Bangka, yang selama ini dikenal dengan wisata pantainya seakan kian menunjukkan eksistensinya setelah diresmikannya sebuah tempat wisata religi oleh Menteri Agama RI, Bapak Lukman Hakim Saifudin pada hari minggu 18 Januari 2015 lalu.

Tempat wisata religi ini terletak di kawasan Pantai Tikus Sungailiat, Kabupaten Bangka. Sosok tiga dewa yang ada dalam kuil tersebut menjadikan alasan pengelola memberikan nama tempat ini sebagai Padepokan Puri Tri Agung. Bangunan yang berdiri megah di ketinggian ini memiliki landscape yang menarik, karena berhadapan langsung dengan Pantai Tikus. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang berselfie ria dari kawasan Puri ini.

Bangunan yang menjadi tempat ibadah umat Buddha ini katanya di arsiteki Putra Bangka, dibangun bertahap selama 12 tahun dan menghabiskan biaya sekitar Rp. 12 milyar. Saya sengaja berkunjung menikmati sore dihari Jum'at sembari mengambil beberapa foto. Sesekali masuk kedalam dan tercium pekat aroma garu yang menusuk hingga rongga paru.

Tak perlu waktu lama untuk mencapai tempat cantik ini. Jika berangkat dari Pangkalpinang hanya membutuhkan waktu lebih kurang 40 menit melalui jalan lintas dan akan disuguhi pemandangan hijau berpadu dengan jejak-jejak hasil penambangan timah yang biasa disebut kolong (bukan kolong meja).

Megahnya Padepokan Puri Tri Agung

Puri Tri Agung dari kejauhan


Landscape dari kawasan sekitar Padepokan Puri Tri Agung




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…