Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Hiking, ini Penyiksaan! #MendakiMaras #Part02

Usai makan dan sholat maghrib berjamaah, kita berkumpul untuk diberikan sedikit pembinaan sebelum melanjutkan pendakian. Kelengkapan peralatan mulai di cross check, senter, jaket, selimut dan lain-lainnya.
Nah, kedapatan ada yang bawa senter korek api. Tau kan senter korek api yang pake baterai seukuran baterai jam tangan yang cahayanya nggak lebih terang dari cahaya lilin. Kenapa nggak sekalian aja lu bawa lilin sampe keatas biar lebih terang. Dikira kita mau tamasya kepantai terus buat api unggun untuk ngusir nyamuk.
Akhirnya karena ada beberapa yang gak bawa senter sekaligus yang bawa senter korek api, jadi pendakian dibagi menjadi lima kelompok. Nah, gue yang baru satu kali naik ke puncak lewat jalur Rambang disuruh jadi pemandu jalan. Dengan carriel segede speaker acara kondangan ditambah variasi dua botol air 1,5 liter bergelantungan membuat gue lebih pede melangkah ke jenjang selanjutnya. Dan belum jalan aja gue udah salah jalan, malu gue. Untung malem, jadi ekspresi wajah ngg…

Sensai naik Truk Bak Terbuka #MendakiMaras #Part01

Karena travel naik kendaraan tertutup sudah terlalu mainstream. Bukan itu sih permasalahannya. Siapa sih yang nggak mau enak, duduk di sofa empuk, ditiup ac sepanjang perjalanan, nggak kehujanan ataupun kepanasan. Tapi karena keterbatasan, kita terkadang harus keluar dari zona-zona nyaman itu. Begitu juga trip kali ini, lokasi yang akan dituju lumayan jauh sekitar 102 km dari Pangkalpinang dan transportasi yang digunakan adalah truk.
Di kota besar seperti Pangkalpinang, jalan-jalan menggunakan truk itu mereka bilang seperti "orang kampung" meskipun isinya orang-orang luar kota (bisa dibilang kampung juga sih.hehe karena kita campuran). Iyalah, teriak-teriak nggak jelas dari dalam bak mobil, liatin orang yang jalan dibelakang truk kayak liat ayam KFC lagi fresh from the oven.


Tapi naik truk bagi saya punya sensasi tersendiri apalagi kalo rame-rame. Kita bisa bercerita bersama dengan fokus, atau bercanda kelewatan sampai teriak-teriak, lihat pemandangan sepanjang jalan dengan…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangka Island Outdoors, Perjalanan Penasaran

Banyaknya objek wisata yang sebagian besar telah dikelola baik oleh investor asing maupun warga lokal membuat saya sedikit bosan, entah karena tata kelola yang kurang maksimal, atau memang saya yang tidak memiliki cukup banyak uang untuk mengunjungi sebuah destinasi wisata modern sehingga saya lebih memilih kawasan alami untuk mengisi akhir pekan beberapa minggu lalu. Hahaha, sudahlah. Sebelumnya sempat terdengar suara - suara dari beberapa orang teman yang membicarakan tentang BIO dan berhasil menarik sedikit rasa penasaran.

Rasa penasaran bertambah ketika menemukan sebuah website dengan Headline Gubuk Derita yang menampilkan beberapa landscape panorama pantai tersembunyi ini. Potret air lautnya yang biru membuat saya tak sabar untuk segera mencari dimana pantai ini berada.
Dari Pangkalpinang saya bertolak ke kecamatan Deniang yang letaknya lebih kurang 16km dari kota Sungailiat. terletak di daerah pemukiman chinese, pantai ini cukup jauh dari keramaian. Tanpa peta dan GPS, saya nek…

Sumpet, Mengenal Kerajinan Khas Orang Lom

Dengan gaya bicara dan bahasa khas Orang Lom, saya agak sedikit kesulitan mengartikan apa yang dibicarakan Ibu Le. Beliau adalah satu dari beberapa orang yang masih aktif dalam menghasilkan sebuah kerajinan khas dari suku pertama di Pulau Bangka.

Pucot merupakan bahan dasar dalam membuat sumpet. Tumbuhan yang biasa tumbuh di rawa-rawa ini sekarang sudah mulai sulit ditemukan, sehingga membuat Bu Le harus meluangkan waktu lebih untuk mencari tumbuhan tersebut. Sayang, ketika kedatangan saya, Bu Le sedang tidak menyimpan tumbuhan pucot yang dimaksud.

Sumpet sendiri pada jaman dahulu hingga sekarang sering digunakan sebagai media untuk menaruh buk (red : nasi) ketika orang-orang pergi berladang. Nasi yang ditempatkan didalam sumpet ini bisa bertahan 24 jam tanpa harus dipanaskan, kata Bu Le.

Dalam prosesnya, pembuatan sumpet ini cukup rumit dan memakan waktu cukup lama, tak tanggung - tanggung untuk menganyam satu buah sumpet membutuhkan waktu kurang lebih dua belas jam dalam sekali dud…