Langsung ke konten utama

Hiking, ini Penyiksaan! #MendakiMaras #Part02


Usai makan dan sholat maghrib berjamaah, kita berkumpul untuk diberikan sedikit pembinaan sebelum melanjutkan pendakian. Kelengkapan peralatan mulai di cross check, senter, jaket, selimut dan lain-lainnya.

Nah, kedapatan ada yang bawa senter korek api. Tau kan senter korek api yang pake baterai seukuran baterai jam tangan yang cahayanya nggak lebih terang dari cahaya lilin. Kenapa nggak sekalian aja lu bawa lilin sampe keatas biar lebih terang. Dikira kita mau tamasya kepantai terus buat api unggun untuk ngusir nyamuk.

Akhirnya karena ada beberapa yang gak bawa senter sekaligus yang bawa senter korek api, jadi pendakian dibagi menjadi lima kelompok. Nah, gue yang baru satu kali naik ke puncak lewat jalur Rambang disuruh jadi pemandu jalan. Dengan carriel segede speaker acara kondangan ditambah variasi dua botol air 1,5 liter bergelantungan membuat gue lebih pede melangkah ke jenjang selanjutnya. Dan belum jalan aja gue udah salah jalan, malu gue. Untung malem, jadi ekspresi wajah nggak terlalu kelihatan.


Dua puluh menit berlalu melewati jalan nanjak yang nggak pake berhenti membuat kaos hitam yang gue pake, basah luar dalem. Pengen rasanya lari turun kebawah nyebur ke air terjun terus diriin tenda dibawah, biar gue ngecamp dibawah aja. Dengkul belum apa-apa udah gemeteran, gue pikir cuma gue yang ngerasa kayak gini, ternyata yang lain juga sama, gak jadi dah gue turun lagi jadi istirahat aja bentar.


Lima menit istirahat, pendakian kembali dilanjutkan. Terus nanjak, gak lama kemudian ada yang teriak, keram, keram!. Ternyata temen gue yang dibelakang namanya ilham (bukan keram) kakinya yang keram dan nggak bisa jalan untuk sementara. Jadi deh kita istirahat lagi sambil nungguin kakinya si Ilham normal lagi.


Setelah kaki si Ilham normal, kita lanjutkan lagi pendakian yang baru dijalani sekitar 20% . Setengah perjalanan kemudian kembali terhenti dengan teriakan STOOOP! dari yang belakang. Ternyata temen gue lagi tuh, namanya Habib disengat kalajengking dan akan segera menjadi Scorpionman kayak di film-film. Seketika wajah habib berubah menjadi lebih ganteng, lebih bercahaya dan gue mulai ngelantur karena mengalami dehidrasi yang membuat pikiran mulai kacau. "Air-air", teriak gue yang membawa dua botol besar air dibelakang tas meminta air kepada teman yang dibelakang gue. Mungkin temen yang air nya gue minta itu berpikiran "Kak ari pelit amat, udah bawa dua botol besar air, masih minta air punya gue", bukan gue bukan pelit, cuma susah aja ngambil air dibelakang, mesti turun naik tas yang beratnya bikin pundak merah.

Si Habib normal, kita kembali melanjutkan pendakian. Gue mulai lemes karena carriel yang segede speaker acara nikahan, akhirnya gantian temen yang dibelakang buat jadi pemandu jalan didepan. Satu persatu variasi gantungan air dengan botol seukuran 1,5 liter gue bagiin buat dibawa temen-temen lain biar ngurangin beban gue. *Kasian ya..

Gak lama kemudian ada lagi yang teriak "keram-keram!" gue berhenti, tapi yang lain terus jalan, nah gue bingunng kok terus jalan. Gue nanya ke temen belakang karena nggak sanggup ngejar yang didepan. Ternyata pendengaran gue salah, yang diteriakin tadi itu "JURANG, BUKAN KERAM". Gue minum lagi air putih yang langsung diambil dari air terjun pegunungan. "Pendakian ini makin menyiksa", pikir gue sambil ngebayangin dirumah ada kasur sama selimut tebal, makan enak, minum tinggal beli ketoko didepan rumah tanpa harus jalan nanjak. Dan terus melanjutkan perjalanan.

Ketika mencapai ketinggian sekitar lima ratus meter diatas permukaan laut, kami kembali beristirahat. Gue yang semakin lelah dan ngerasa semakin dingin karena kabut yang menutup jarak pandang mulai menggunakan jaket, ah itung-itung sambil ngurangin beban carriel.

Setelah sepuluh menit beristirahat, satu persatu mulai melanjutkan pendakian di tengah kabut yang menutup jarak pandang. Kami sampai di Puncak pukul 23.15 WIB.

Komentar

  1. Baru naik gunung yang tingginya 600an meter ini aja udah sakitnya minta ampun ya. Konon pengen naik ke Semeru yang ribuan meter? hahahaha... Semoga nanti bisa ke Semeru. :D

    BalasHapus
  2. Angka ketinggian tak menjamin segalanya mudah, karena bagaimanapun kerasnya kita menepis rasa meremehkan, tetap saja akan terasa kalau gunung/bukit itu punya tingkat kesulitannya sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, bener bang, setiap gunung/bukit punya karakternya tersendiri. yang pasti kalo naik gunung itu pasti nanjak, :D

      Hapus
  3. Jadi berpikir ulang kl mau hiking, berat bawa carriel dan bawa perut T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo semangatnya kuat, mudah-mudahan bisa kak.. :)

      Hapus
  4. mendaki memang tak pernah mudah..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

Hoovgebouw van Het Ziekenhui, Sisa dan Sejarah Banka Tin Winning

Jika dimulai dari sejarah, Kota Pangkalpinang mempunyai alur cerita sejarah yang menarik untuk diceritakan. Awalnya bermula ketika Kesultanan Palembang dipimpin oleh Sultan Mahmud Badarudin I Jayawikromo, namun ketika pada tanggal 17 September 1757 Sultan Mahmud Badarudin I Jayawikromo wafat dan diangkatlah Susuhunan Ahmad Najamuddin Adikusumo sebagai Sultan Palembang yang sebelumnya sudah mendapatkan perintah dan kuasa untuk memimpin pemerintahan dan memperluas daerah Kesultanan Palembang dari Sultan Mahmud Badarudin I Jayawikromo sebelum wafat.
Kota Pangkalpinang dibentuk setelah Kesultanan Palembang dipimpin oleh Susuhunan Ahmad Najamuddin Adikusumo. Beliau memberikan perintah kepada Abang Pahang yang bergelar Tumenggung Dita Menggala dan Depati serta Batin - batin dan Para Krio yang ada di Pulau Bangka untuk mencari pengkal yang akan dijadikan tempat kedudukan Demang dan Jenang untuk mengawasi parit - parit penambangan timah, para pekerja timah, dan mengawasi distribusi timah dari …