Langsung ke konten utama

Sumpet, Mengenal Kerajinan Khas Orang Lom


Bu Le, salah satu pengrajin sumpet
Dengan gaya bicara dan bahasa khas Orang Lom, saya agak sedikit kesulitan mengartikan apa yang dibicarakan Ibu Le. Beliau adalah satu dari beberapa orang yang masih aktif dalam menghasilkan sebuah kerajinan khas dari suku pertama di Pulau Bangka.

Pucot merupakan bahan dasar dalam membuat sumpet. Tumbuhan yang biasa tumbuh di rawa-rawa ini sekarang sudah mulai sulit ditemukan, sehingga membuat Bu Le harus meluangkan waktu lebih untuk mencari tumbuhan tersebut. Sayang, ketika kedatangan saya, Bu Le sedang tidak menyimpan tumbuhan pucot yang dimaksud.

Sumpet sendiri pada jaman dahulu hingga sekarang sering digunakan sebagai media untuk menaruh buk (red : nasi) ketika orang-orang pergi berladang. Nasi yang ditempatkan didalam sumpet ini bisa bertahan 24 jam tanpa harus dipanaskan, kata Bu Le.

Dalam prosesnya, pembuatan sumpet ini cukup rumit dan memakan waktu cukup lama, tak tanggung - tanggung untuk menganyam satu buah sumpet membutuhkan waktu kurang lebih dua belas jam dalam sekali duduk. "Nginot mate (red : Ngantuk mata)", ujar perempuan tua tersebut.

Secara singkat beliau menjelaskan proses pembuatan sumpet kepada kami. Mulai dari mencari pucot sebagai bahan dasar pembuatan sumpet, setelah ditemukan dan dipotong pucot diangai  dan diluruskan, kemudian dicelor atau direndam dengan air panas. Setelah beberapa lama dicelor, pucot tersebut digantung untuk mengeringkan air sisa rendaman. Kemudian kembali direndam dengan air dingin dan dibiarkan selama kurang lebih 2 hari. Setelah direndam barulah kemudian dijemur saat hari teduh dan angin tidak terlalu kencang.

Sesekali saya mencoba menganyam sumpet yang sudah hampir selesai dikerjakan bu le. Diperlukan kesabaran yang cukup tinggi untuk menyelesaikan sebuah sumpet ini. Ketelitian juga diperlukan untuk memperhatikan sudut-sudut tempat bersimpulnya lembar-lembar pucot hingga menjadi sebuah anyaman yang cantik.

Selain sumpet, Bu Len juga bisa membuat Kikich yang dibuat dengan bahan dasar daun mengkuang dan proses pembuatannya lebih mudah dibandingkan sumpet.

Sumpet yang belum jadi
Kikich dengan bahan daun Mengkuang dan Sumpet yang berbahan dasar pucot



Komentar

  1. Ade nomor kontak model yg dalam foto paling bawah tu dak? :p

    BalasHapus
  2. makasih gan infonya dan salam sukses

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…