Langsung ke konten utama

Penginapan Wisata Alam Batu Mentas, Belitung

Menikmati suasana pagi di kota besar mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Terlebih ketika terbangun diatas kasur empuk sebuah hotel berbintang karena mendengarkan suara hiruk pikuk kota metropolitan. Pernahkah terpikir untuk menikmati suasana yang sedikit berbeda? terlelap dan terbangun dalam nyanyian alam? Jika pernah, Penginapan Wisata Alam Batu Mentas bisa menjadi pilihan.

Terletak jauh dari pusat keramaian. Di Wisata Alam Batu Mentas terdapat dua penginapan, sebuah Rumah tenda, dan dua buah Rumah pohon yang keduanya terletak di dalam hutan.

Rumah pohon bukanlah sebuah rumah yang dibangun diatas pohon. Rumah pohon hanyalah sebuah rumah yang dibangun diatas ketinggian empat meter dengan menggunakan kayu sebagai penyangga. Di bangun dengan material yang lebih banyak menggunakan bahan dasar kayu. Rumah pohon hanya memiliki ukuran tak lebih dari 5 x 5 meter. Seperti rumah pada umumnya, rumah pohon juga mempunyai toilet dan kamar mandi yang di design dengan nuansa yang lebih alami. Selain toilet dengan nuansa alami, di dalam rumah pohon juga terdapat sebuah spring bed (tempat tidur) yang muat untuk dua orang. Dengan di kelilingi kelambu, bermalam di rumah pohon tentu menyenangkan terutama bagi pasangan pengantin baru.
Tree House
Tak hanya rumah pohon, rumah tenda juga tak kalah menarik. Seperti namanya “Rumah Tenda”, rumah yang dibangun dengan perpaduan kayu-kayu dan tenda. Dengan luas yang sedikit lebih besar dari rumah pohon, Interior dalam rumah tenda tak jauh berbeda dengan rumah pohon, terdapat kamar mandi dengan  nuansa alami, dan springbed dengan kapasitas dua orang yang tertutup kelambu.
Tent House


Dengan harga 400 ribu rupiah untuk rumah pohon dan 900 ribu rupiah untuk rumah tenda per 24 jam, menginap disini sudah termasuk sarapan pagi dan makan malam yang disajikan dari resto wisata alam batu mentas, dan nikmati sensasi tidur ditemani kesunyian malam dan terbangun pagi dengan nyanyian alam.

Bagaimana, tertarik?
Kunjungi Wisata Alam Batu Mentas, Belitung

Komentar

  1. Mas orang Bangka tah?

    Yang paling saya rindukan adalah keindahannya, Bangka dan Belitung. Keindahan kuduanya itu sederhana, seperti menikmati segelas kecil kopi diatas kedua tanahnya.

    Salim kenal Mas Ary.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas,
      begitulah bangka mas, sederhana tapi berkesan untuk mereka yang pernah tinggal di sini.
      Salam kenal juga mas agung :)

      Hapus
  2. Hallooo, Kak Arie. Kak Arie bisa mengenalkan lagi tentang keberagaman yang ada di Dunia.
    Dan ini ada info jalan-jalan gratis.

    Kesempatan untuk ikut ekspedisi Kalimantan bersama New Daihatsu Terios #Terios7Wonders.

    Dimulai dari Palangkaraya, Kruing, Pulau Kaget & Kandangan, Amuntai & Balikpapan, Samarinda, Tn. Kutai dan berakhir dengan melihat cantiknya pulau Surga, Maratua.

    Caranya, ikutan lomba blog "Borneo Wild Adventure"
    Untuk info lebih lengkapnya, http://bit.ly/terios7wonders2015
    Ada Grand Prize MacBook Pro juga, lho!

    Ayo ikutan, Kak! Jangan sampai ketinggalan, ya!

    BalasHapus
  3. Fix! www.bangkanese.com mau kan ya nyeponsorin saya nginep di sini?? :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entar kalo aku jadi kepala dinas Mas Rifqy.hahahaha :D

      Hapus
  4. Sore Mas Ari..mohon infonya, kl mau booking rumah pohon tsb, bisa minta no.contact-nya? Tks..

    BalasHapus
  5. Sore Mas Ari..mohon infonya, kl mau booking rumah pohon tsb, bisa minta no.contact-nya? Tks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf baru bisa bales komentar Mas Andi, mungkin bisa browsing info lengkapnya di link berikut https://batumentas.wordpress.com/ terimakasih. Semoga Bermanfaat :)

      Hapus
  6. mohon info kontak untuk mengingap di rumah pohon/tenda ini?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…