Langsung ke konten utama

Belitung, Kita punya Teman Baru

Landasan yang masih basah
Landasan pacu bandara H.A.S. Hanandjoeddin masih tampak basah pukul tiga sore itu. Hujan memang turun tidak merata di Belitong. Aku beserta dua teman, Susanto dan Dobby turun dari pesawat Wings Air tujuan Pangkalpinang (PGK) ke Tanjung Pandan (TJQ). Dengan percaya diri tiga orang bujangan ini melewati semua tawaran harga sopir yang biasa mengantarkan tamu ke Tanjung Pandan.

Gagal candid bersama Doby
Ini pertama kalinya aku dan dua orang temanku mengunjungi Belitung, dengan satu pikiran yang sama beranggapan bahwa Belitung sama seperti Pangkalpinang. Demi menghemat biaya aku, Dobby, dan Susanto rela berjalan kaki cukup jauh dari Bandara ke Jalan utama Belitung dengan harapan menemukan angkutan umum yang akan mengantarkan ke kota Tanjung Pandan.

Suasana semakin sendu, senja semakin mendekat ketika gerimis turun jarang-jarang, semakin mendekati jalan utama, tampak semakin sepi. Di jalanan tak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang, dan tidak satupun aku menemukan angkutan umum yang lewat.

Wajah semakin panik karena hari semakin gelap dan gerimis turun semakin deras. Ransel pun terasa semakin berat, tiba-tiba muncul sebuah minibus Avanza keluaran terbaru warna putih berhenti sedikit lewat dari depan kami. Diturunkannya kacanya yang berwarna agak gelap, kemudian menyapa,

"Boy, nek ke kota keh?".

Saya yang kurang paham bahasa Belitung mendekat ke arah mobil tersebut. Kemudian diulanginya kembali pertanyaan yang sama.

"Nek ke kota keh?"

"Iye bang, nunggu angkot dak de lewat-lewat", aku menjawab dengan wajah memelas.

"Naik jak, mumpung tengah kusong. Aku nek ke kota juga, jadi sekalian", menawarkan dengan ramah.

Tanpa berpikir lama, aku, Doby dan Santo segera naik karena hari semakin sore dan hujan mulai turun.

Perjalanan selama lebih kurang lima belas menit menuju kota Tanjung Pandan itu kami isi dengan perkenalan ringan untuk mencairkan suasana. Namanya Alvin, anak komunitas vespa belitung. Usianya lebih dulu beberapa tahun dari ku. Alvin menceritakan seputar tempat-tempat menarik yang harus dikunjungi selama di Belitung, tak ketinggalan tempat nongkrong muda-mudi Belitung di sekitaran kota Tanjung Pandan. Diselipkan sedikit candaan,

Jalanan di depan Wisma Bougenville
"Jauh kan, kalok bejalan tadi pacak malem sampai ke kota", mereka menyebutkan Tanjung Pandan dengan sebutan kota.

Semakin sore, aku, Dobby dan Santo langsung diantarkan ke sebuah mess di sekitar kawasan wisata Pantai Tanjung Pendam. Penginapan yang letaknya strategis, berseberangan langsung dengan Masjid Al Ihram dan hanya tiga menit dari pantai Tanjung Pendam dengan harga yang cukup terjangkau untuk kantong mahasiswa. Wisma Bougenville terletak di Jalan Gegedek kawasan Pantai Tanjung Pendam, Tanjung Pandan.

Awalnya, Wisma Bougenville adalah rumah yang dibangun untuk kepala administrator pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1862 kemudian menjadi properti PT Timah, dan dikelola oleh pemerintah provinsi sebagai mess, dan pada akhirnya wisma Bougenville diserahterimakan PT Timah kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Aku berpamitan kepada Alvin yang sudah memberikan tumpangan dan sekaligus mencarikan penginapan kepada kami. Sebagai tamu di daerah orang ditambah dengan ongkos pas-pasan hingga merepotkan orang, diiringi angin sore dan sedikit gerimis, aku, Dobby dan Santo hanya bisa mengucapkan terimakasih banyak kepada Alvin yang sudah berbaik hati. 

Fajar di Wisma Bougenville
Thankyou Alvin,

Best Regard
Arie 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…