Langsung ke konten utama

Penyusuk dan Nasib Para Ojek Perahu

Mungkin Bangka Belitung adalah surga bagi sebagian orang. Entah karena kecantikan alamnya, tutur budaya, atau kekayaan alamnya. Tapi tak butuh waktu lama bagi mereka yang haus materi untuk menggagahi sedikit demi sedikit sisi surga ini menjadi layaknya neraka tanpa api, tapi menyiksa. Mereka tak kan berhenti menggali sampai Bangka ini akan menjadi Bangkai yang mati. Siapa peduli? Setidaknya, sisakan sedikit kepada kami kepingan surga itu agar bisa terus KAMI nikmati.
Pantai Penyusuk beberapa tahun silam

Tiba di ujung jalan, aku berhenti. Setelah tegak motor ku berdiri di atas pasir lembut di bawah pohon kelapa, aku mulai berjalan sendiri memberi pandang seluas-luasnya di depan pantai, di tanah kelahiran ibuku, Belinyu. Batuan granit bertaburan di sekitar pantai. Jajaran pulau - pulau terlihat dari bibir pantai. Sebuah pulau dengan tiang tinggi dengan lampu di atasnya.

Aku datang lebih pagi ketika pantai ini masih sepi. Perlahan, pedagang makanan ringan mulai menggelar dagangan seadanya. Mereka masyarakat sekitar Pantai Penyusuk. Aku membeli satu botol minuman dingin yang dinginnya mulai pudar dikunyah panas matahari dan aku pun kembali melanjutkan kesibukan yang ku buat sendiri.
Papa Ojek Perahu, Kapal Isap tampak di kejauhan

Di bibir pantai, para ojek perahu berlomba menawarkan jasa  mengantarkan wisatawan ke pulau-pulau di sekitar Pantai Penyusuk. Dibuatnya tulisan pada sebuah media kayu, kemudian di dekorasi secantik mungkin agar menarik perhatian. Tak lupa dituliskan nomor telepon agar wisatawan dapat menghubungi untuk menggunakan jasanya. Disini mereka menggantungkan hidup pada sektor pariwisata.
Jasa Ojek Perahu, salah satu mata pencaharian masyarakat penyusuk

Namun akhir - akhir ini, Kapal Isap muncul di perairan Pantai Penyusuk. Ruang gerak penambangan timah yang semakin sempit mungkin memaksa Kapal Isap ini melakukan produksi di sekitar daerah wisata. Izin tambang yang telah dikeluarkan sejak lama menjadi alasan bagi para pembuat kebijakan. Tak main - main, dampak yang di akibatkan proses tambang di lepas pantai ini menyebar tak hanya untuk ekosistem laut, tapi juga masyarakat lokal. Mereka akan kehilangan pencaharian. Nelayan yang sudah melaut sejak lama kesulitan mendapatkan ikan, para ojek perahu yang berharap sedikit rupiah setiap minggu sebagai tambahan untuk bumbu dapur, pariwisata pun kian terancam jika tak dapat dihentikan.

Perahu-perahu Nelayan
Di tengah tingginya angka kunjungan wisatawan, namun ketika ekosistem laut tidak lagi memberi nilai tinggi, ikan - ikan tak lagi ada, wisata pun tak lagi menarik, siapa yang merugi? Siapa yang patut disalahkan?
Gambar : Yudi Sulthan

Komentar

  1. Terakhir kali ke Penyusuk juga terlihat kapal isap itu. Air di sekitar pantai menjadi keruh. Aku dengar di sekitar situ juga ada terumbu karangnya. Kalau airnya keruh, pasir-pasir bisa mematikan karang-karang yang terus tumbuh. Kalau karang mati, tak ada lagi tempat berlindung anak-anak ikan. Dampaknya nelayan tak bisa lagi mendapatkan ikan. Semoga masalah ini segera diselesaikan. Secepatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang tambah banyak bang Kapal isap tu, Izin tambang pemerintahan sebelum e jadi alasan.

      Hapus
  2. Miris yaa, sedih saya ngeliatnyašŸ˜©

    BalasHapus
  3. Terakhir ke Penyusuk awal Mei lalu. Semoga pemerintah setempat cepat ambil tindakan supaya nggak dirusak tangan yang nggak bertanggung jawab :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak Anggi, sayang aset pariwisata Bangka nanti nggak ada lagi

      Hapus
  4. Prihatin . .
    kapal isap itu punya orang asing kah?

    jika ia apa bedanya dengan 100 tahun yang lalu? kita masih di jajah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Punya asing atau pun bukan, yang pasti ini berdampak besar pada masyarakat lokal dan ekosistem perairan sekitar

      Hapus
  5. Semoga pemerintahan Jokowi lebih perduli lagi terhadap pariwisata lokal... Kapan majunya pariwisata lokal kalau banyak yang ganggu

    BalasHapus
  6. Kaaak, aku padahal 17 tahun tinggal di palembang. 'Tapi belom kesampean buat nyebrang ke Bangka Belitung.
    Nexttime bolehlah yah kita bertemu di pulau Bangka. Mungkin kamu bisa bercerita tentang indah nya bangka atau cerita duka dibalik keindahan Bangka.

    BalasHapus
  7. Aduh baru ini saya dengar masih ada berita kayak begini ya di Pulau Bangka. Semoga Pak Presiden, Bu Susi juga ikut peduli, jadi khawatir pulau dan pantai seindah itu dirusak sekejap oleh oknum-oknum itu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sebagai orang biasa, saya hanya bisa berharap. :)

      Hapus
  8. Sedihhhh...saya bantu publikasikan biar banyak orang tau..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…