Langsung ke konten utama

Ketenaran Kolong Biru, Sisa Penambangan Timah

Lobang di kiri, ku banting setir ke kanan, lobang di kanan, ku banting setir ke kiri. Itulah yang terjadi ketika hendak melihat sebuah bekas tambang timah yang berbeda dengan banyak bekas tambang lainnya. Kenapa tambang timah ? Karena memang pulau ini kaya akan timah (dulunya) dan menjadi penghasil timah terbesar di Indonesia.

Biar ku ceritakan sedikit perjalanan kejayaan timah dari negeri ini.

Penambangan timah di Pulau Bangka sudah terjadi sejak berabad - abad silam. Mulai dari zaman kerajaan Sriwijaya hingga sekarang yang dikelola negara melalui perusahaan PT. TIMAH. Karena nilai ekonomi timah yang begitu tinggi dulunya, banyak negara - negara asing yang datang dan tertarik untuk mengeruk sebanyak mungkin mineral tambang ini.

Hingga saat ini penambangan timah pun masih banyak di lakukan baik oleh asing maupun warga lokal itu sendiri, yang setelah melakukan penambangan tidak ada wacana untuk mereklamasi lahan pasca penambangan tersebut. Hingga saat ini sejauh yang ku ketahui belum ada solusi entah untuk menutup atau mengelola kolong - kolong sisa penambangan tersebut.

Pegal kaki memainkan kopling minibus yang sudah ku kendarai sejak pagi. Setelah melewati Koba dan Desa Nibung akhirnya aku tiba di Desa Air Bara, wilayah selatan pulau ini. Matahari bersinar terik, tetapi sebagian awan berwarna gelap. Jalanan aspal yang terpanggang matahari membias cahaya menyerupai air.

Di tengah perjalanan, ku alihkan kendaraanku keluar dari panasnya aspal menuju lintasan kuning berdebu. Orang lebih mengenalnya Simpang Bemban. Jalanan dengan lobang menganga di berbagai sisi. Di kiri kanan jalan, gundukan pasir putih tinggi yang mengeras di makan zaman dari kejauhan tampak menyerupai salju yang berkilau disinari matahari. Ku lihat orang - orang tua dengan sepeda motor yang sudah di preteli membawa mesin - mesin yang cukup besar. Hafal betul dengan kondisi jalan, dia berkendara dengan laju, dan hanya menyisakan jejak debu.

Sesekali, bus pariwisata bermuatan puluhan turis berjalan dengan begitu hati - hati karena kondisi jalan yang membuat prihatin. Kendaraan yang lebih kecil dan orang - orang yang terburu - buru mencari nafkah dari sisa tambang timah harus rela mengalah. Memang, sedikit banyak, masih ada orang - orang yang berharap menyambung hidup dari kilogram timah.

Setelah beberapa lama, kulihat di balik semak - semak, mobil - mobil terparkir. Mereka memarkirkan kendaraanya sedapat mungkin, di bawah pohon, di pinggir warung. Semenjak dikenalnya tempat ini beberapa masyarakat mulai sedikit berganti profesi. Warung kopi kecil barangkali lebih menjanjikan dari beberapa kilogram timah.

Di kejauhan, ku lihat orang - orang berselfie ria, berdiri sedekat mungkin dengan bibir tebing tanpa memikirkan bahaya yang dapat terjadi. Dengan tongkat dan kamera, mereka mengeluarkan pose dengan berbagai ekspresi. Tapi sudahlah, menikmati hidup setiap orang mempunyai caranya tersendiri.

Saat berkeliling, aku beranikan sedikit mendekat, di balik gundukan pasir tinggi yang tadi ku lihat, terdapat air berwarna biru, seperti kolam renang raksasa, tapi tak tampak dasarnya. Bagus, indah ketika dipandang mata. Namun, jauh sebelum ku tuliskan cerita ini, duka sudah pernah terjadi. Ketika berbagai bangsa datang untuk mengeksploitasi dan mempublikasi kekayaan tanah ini hingga terjadilah penjarahan timah berkepanjangan.

Aku melangkah ke warung kopi yang begitu sederhana. Ku tutup cerita ini dengan segelas kopi berwarna hitam pekat, berharap ada pelajaran berarti yang ku dapat.

Komentar

  1. bening banget ya airnya,. bagus gitu
    tapi itu kalo ditambang terus ya tetep merusak alam sekitar juga ya, jadi dilema

    BalasHapus
  2. itu aman gak mba dipake renang kolongnya? dalem banget ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Air di lobang tersebut mengandung berbagai logam berat dan bersifat asam, jadi berbahaya jika digunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi, berenang atau semacamnya

      Hapus
  3. Masih penasaran, apa yang terjadi seandainya ada yang jatuh terpeleset ke dalam danau?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasa penasaran kita sama Mas Gio. Lalu apakah tubir "danau" tersebut rapuh dan rawan longsor? Bagaimanapun, dia indah tapi menyimpan kerawanan :O

      Hapus
    2. Kalau terpeleset lebih baik secepatnya berenang ke tepian Mas Gio,

      Tanah di sekitar pinggiran "danau" sudah mengalami proses yang panjang, sehingga tanah di sekitar danau tersebut mengeras, namun tetap perlu waspada dan hati - hati Mas Rifqy
      :)

      Hapus
  4. bagus banget tempatnya, tapi sayangnya gk bisa buat berenang yaa..
    kalo kecemplung bisa fatal akibatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi untuk cuci mata, foto - foto, tempat ini bagus :)

      Hapus
  5. Setelah ku pindah dari Bangka, banyaaaak lokasi wisata di Bangka bermunculan. :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya harus lebih lama tinggal di Bangka ya. Yok balik lagi ke Bangka :D

      Hapus
  6. wajar lah, pemandangan seindah itu pasti banyak diburu anak muda masa kini untuk stock poto sosial media, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting tetap jaga kelestarian lingkungan ya.. :)
      Salam.

      Hapus
  7. mantep memang kolong biru nih, cuma sayang jauh dari lokasi rumah ku :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Men deket rumah kelak bahaya pulik yak, hahaha :D

      Hapus
  8. bagus sekali pemandangannya, sebenarnya enak untuk dikunjungi.

    BalasHapus
  9. mantep banget itu, ada ya tempat di indonesia sepeti ini

    BalasHapus
  10. Keren... Sayang pas hari terakhir ku di Bangka yang rencananya mau kesitu jadi batal

    BalasHapus
  11. Wih mantep semakin cinta sama indonesia :)_

    BalasHapus
  12. How to cope with fever and body ache with herbal medicine QNC gamat jelly can help heal or cope with chills and body aches naturally and quickly.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…