Langsung ke konten utama

About






Namanya Arie Okta, nama yang selalu didengar setiap sore absen mahasiswa di kelas. Umurnya lebih muda dari ku dengan postur tubuh kurus tinggi sekitar 170-180 cm berkulit hitam manis, setiap kali bertemu dengannya selalu dengan tas ransel berisi laptop. Sifatnya tenang, gaya berpakaiannya santai, terlihat bukan tipe humoris dan suka basa-basi, pria yang kaku jika pertama kali bertemu dengannya.

Akhir-akhir ini aku mengenalnya sebagai pria yang suka traveling, fotografi dan baca buku sajak-sajak romantis. Pria yang tepat untuk jadi travelmate. Imajinasinya tinggi hanya saja jarang semuanya terealisasi.

Blog ini dimulai dengan tulisan serabutan, isinya pun tak pasti. Tapi lebih banyak ke arah cerita perjalanan yang pernah saya alami. Bukan seorang jurnalis, ataupun tukang foto. Tapi saya tetap mencoba menyajikan sebuah cerita dengan bahasa dan konsep gambar yang sederhana.


Salam.
arie17okt@gmail.com


Komentar

  1. Selamat berjuang meninggalkan jejak-jejak baru di segala penjuru negeri ini Mas! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, semoga kapan-kapan bisa ketemu sama mas Rifqy, ditunggu jejakna di bangka. :)

      Hapus
  2. blog kamu keren keren mbk..penuh wisata alam indonesia - indonesia itu indah trp n adventur banget nih blognya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir. Saya belum keliling Indonesia mas. :)

      Hapus
    2. paling tidak udah menggali potensi indonesia :)

      Hapus
  3. Kak ari, gabung ya di blogger babel...mohon support kak ari tuk jd penggerak di komunitas kita ini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran

Kawan, adakah sebuah alasan mengapa tanah kelahiran selalu kita rindukan? Adakah alasan lain yang memperkuat kenapa langkah harus kembali ke kampung halaman yang mungkin lebih akrab disapa rumah?

Sejak terbentuk 257 tahun silam, Pangkalpinang dulu hanyalah sebuah pemukiman yang dibangun ditepi sungai yang membelah kota Pangkalpinang saat ini. Sebelum menjadi kota sekarang, Pangkalpinang mengalami proses yang sangat panjang, dimulai dengan ditemukannya biji timah yang tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka, sampai upaya eksploitasi timah dan hasil bumi lainnya oleh berbagai bangsa.

Budaya lokal di tanah kelahiran mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa hati dan kaki ini selalu ingin kembali setelah jauh melangkah, atau mungkin indra pengecap rasamu sudah terlalu manis sehingga ingin merasakan asinnya kuliner sederhana dari tanah kelahiranmu. Terkadang ada sedikit rindu dari sebuah foto-foto nostalgia di sebuah kubangan lumpur kecoklatan. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman…

5 Pantai yang dekat dari Pangkalpinang

Pangkalpinang merupakan pusat pemerintahan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain pusat pemerintahan, Pangkalpinang juga merupakan pusat aktivitas bisnis/perdagangan dan industri di Bangka Belitung. Jika yang penat dengan keramaian Kota Pangkalpinang ketika menghabiskan akhir pekan, barangkali pantai - pantai yang letaknya tidak jauh dari pusat kota bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah, entah hanya untuk sekedar duduk sambil menyeruput es kelapa muda, jalan - jalan sore, bahkan berenang. Jika berkunjung ke Pangkalpinang, pantai pantai ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu. 1. Pantai Pasirpadi Berada sekitar delapan kilometer dari pusat kota Pangkalpinang tepatnya di kelurahan air itam, pantai ini memiliki garis pantai cukup panjang. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk dua ribu rupiah untuk sepeda motor dan empat ribu rupiah untuk mobil. Lebih baik pergi dengan menggunakan sepeda motor jika akhir pekan, karena jalan di pesisir pantai terlalu kecil jika mengg…

Bangkanesia, Perjalanan tanpa Peta

Panas sinar matahari siang itu tak memutuskan semangat untuk kembali berjalan, 5 sepeda motor beriringan menjajal aspal Jl. Koba. Seorang perempuan dua puluh satu tahun duduk manis dibelakangku menemani perjalanan siang itu.

Bangkanesia, perjalanan tanpa peta. Memang itulah adanya, tak tahu pasti dimana tempat itu berada, bermodalkan informasi yang tidak jelas, data yang tidak tersimpan dalam Google Maps membuat perjalanan ini sedikit rumit. Sempat tersesat, terpisah dari rombongan dan bertemu kembali, daerah yang minim signal untuk berkomunikasi menjadi pelajaran hari itu, "Selama ini aku selalu berada di zona nyaman". Bersyukur, hidup di bumi yang masyarakatnya ramah. Tak perlulah takut untuk bertanya, selalu ada orang baik di setiap sudut negeri ini.

Kamu masih disana? lelah pasti terasa. Bosan? ya, perjalanan ini tak pasti ujungnya, entah pulang dengan membawa hasil atau sekedar menghabiskan waktu. Namun ketika berhasil, setidaknya ada sedikit yang bisa diceritakan, jika…